Jumat, 16 September 2011

Osteoporosis


OSTEOPOROSIS PADA LANSIA

TUGAS
MATA KULIAH GIZI

D
I
S
U
S
U
N

Oleh :

YUNITA RATNA SANTI












STIKES BHAKTI PERTIWI INDONESIA JAKARTA
TAHUN AJARAN 2010/2011

BAB I
PENDAHULUAN

I.1   Latar Belakang
PROSES menua merupakan suatu proses normal yang ditandai dengan perubahan secara progresif dalam proses biokimia, sehingga terjadi kelainan atau perubahan struktur dan fungsi jaringan, sel dan non sel. (Widjayakusumah, 1992). Berbagai perubahan fisik dan psikososial akan terjadi sebagai akibat proses menua. Terjadinya perubahan pada semua orang yang mencapai usia lanjut yang tidak disebabkan oleh proses penyakit, menyebabkan kenapa penderita geriatrik berbeda dari populasi lain. (Brocklehurst and Allen, 1987).
Penurunan daya ingat ringan, penurunan fungsi pendengaran dan penglihatan (presbiakusis dan presbiopia) bukanlah suatu penyakit. Seringkali memang susah untuk membedakan antara penurunan akibat proses fisologis dengan yang terjadi karena gangguan patologis, misalnya seperti pada osteoporosis dan aterosklerosis. (Martono,2000 ).

Badan kesehatan dunia (WHO) menetapkan 65 tahun sebagai usia yang menunjukkan proses menua yang berlangsung secara nyata dan seseorang telah disebut lanjut usia. Lansia banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan segera dan terintegrasi.Lansia bukan suatu penyakit, namun merupakan tahap lanjut dari proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan stress lingkungan.Penurunan kemampuan berbagai organ, fungsi, dan system tubuh pada umumnya tanda proses menua mulai tampak sejak usia 45 tahun dan akan menimbulkan masalah pada usia sekitar 60 tahun. Penuaan sering di ikuti dngan penurunan kualitas hidup sehingga status lansia dalam kondisi sehat atau sakit.
Banyak perubahan fisiologi yang mempengaruhi status gizi terjadi pada proses penuaan diantaranya adalah penurunan kecepatan basal metabolik ( BMR ) sekitar 2 % / dekade setelah usia 30 tahun. Penurunan sekresi asam klorida, pepsin dan asam empedu yang berpotensi untuk mengganggu penyerapan kalsium, zat besi, seng, protein, lemak dan vitamin yang larut dalam lemak.
Dengan menurunnya fungsi biologis sel dan organ, maka daya adaptasi fungsi-fungsi tersebut untuk mengatasi gangguan fisik dan mental juga menurun. Dengan pertambahan usia yang ditandai gejala berkurangnya kemampuan fisik dan mental seseorang, maka beberapa keadaan patologis dapat timbul akibat proses penuaan. Berbagai komplikasi serius dapat timbul akibat adanya perubahan pada beberapa sistem organ dan fungsi metabolik yang disebabkan oleh imobilisasi. Dekubitus, osteoporosis, konstipasi, kelemahan dan perubahan psikologik merupakan beberapa komplikasi akibat imobilisasi. (Kahn, 1998).Pemberian nutrisi yang baik dan cukup sangat diperlukan lansia. Hal tersebut.dilakukan dengan pertimbangan bahwa lansia memerlukan nutrisi yang adekuat untuk mendukung dan mempertahankan kesehatan. Beberapa faktor yang mempengaruhi kebutuhan gizi antara lain: berkurangnya kemampuan mencerna makanan, berkurangnya cita rasa, dan faktor penyerapan makanan.
            Dengan adanya penurunan kesehatan dan keterbatasan fisik maka diperluan perawatan sehari-hari yang cukup. Perawatan tersebut dimaksudkan agar lansia mampu mandiri atau mendapat bantuan yang minimal. Perawatan yang diberikan berupa kebersihan perorangan seperti kebersihan gigi dan mulut, kebersihan kulit dan badan serta rambut. Selain itu pemberian informasi pelayanan kesehatan yang memadai juga sangat diperlukan bagi lansia agar dapat mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.
Di Indonesia, jumlah Lansia diperkirakan akan naik 414 persen dalam kurun waktu 1990-2025, sedangkan perempuan menopause yang tahun 2000 diperhitungkan 15,5 juta akan naik menjadi 24 juta pada tahun 2015. Peran keluarga, sahabat, dan handai tolan diperlukan untuk mencitakan dunia yang lebih luas bagii optimalisasi kapasitas fungsional yang tersisa pada penderita osteoporosis,” kata Suryo. Selain itu, upaya advokasi pada kebijakan pemerintah agar berpihak pada populasi lanjut usia juga penting untuk dilakukan.
Risiko wanita terkena osteoporosis dua kali lebih besar dibandingkan pria karena hormon estrogen pada wanita mulai turun kadarnya pada usia 35 tahun.
Menurut WHO (1994), angka kejadian patah tulang (fraktur) akibat osteoporosis di seluruh dunia mencapai angka 1,7 juta orang dan diperkirakan angka ini akan terus meningkat hingga mencapai 6,3 juta orang pada tahun 2050 dan 71% kejadian ini akan terdapat di negaranegara berkembang. Di Indonesia 19,7% dari jumlah lansia atau sekitar 3,6 juta orang diantaranya menderita osteoporosis
Lima provinsi dengan risiko osteoporosis lebih tinggi adalah Sumatra Selatan (27,75%), Jawa Tengah (24,02%), Yogyakarta (23,5%), Sumatra Utara (22,82%), Jawa Timur (21,42%), Kalimantan Timur (10,5%).
Masalah yang sering terjadi ialah osteoporosis banyak terpicu justru dari pola diet yang sembarangan. Umumnya orang yang sedang menjalani diet tanpa bimbingan ahli nutrisi justru melakukan pengurangan porsi makanan. Hal yang demikian itu sebenarnya salah, pengurangan porsi makanan secara otomatis malah membuat tubuh kekurangan asupan nutrisi. Yang terjadi malah timbul persoalan baru. Potensi terjadinya penyakit-penyakit yang fatal semakin besar. Salah satunya osteoporosis.
Terutama kaum wanita, dimana kalsium paling banyak terbuang terbuang ketika masa menstruasi. Bila kalsium yang terbuang tersebut tidak tergantikan segera sesuai kebutuhannya, maka potensi terjadinya osteoporosis semakin besar pula.

Ditambah lagi, wanita yang dalam menjalani program diet tanpa bimbingan ahli nutrisi biasanya dengan sembarang menghindari konsumsi susu dengan alasan menghindari susu berlemak. Dianjurkan untuk menggantikannya dengan susu yang memiliki kadar lemak rendah.
1.2   Tujuan
1.2.1     Tujuan Umum
Penulisan Makalah ini bertujuan sebagai bahan kajian mahasiswa mengenai osteoporosis pada lansia dan kaitannya dengan gizi.
1.2.2     Tujuan Khusus
a.    Mengetahui Defenisi  dan Batasan Lansia dan Osteoporosis
b.    Mengenal tanda dan gejala serta pencegahan osteoporosis
c.    Memahami Faktor faktor yang mempengaruhi kejadian osteoposis pada lansia dan kaitannya dengan gizi
d.    Sebagai salah satu syarat mengikuti mata kuliah Gizi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

OSTEOPOROSIS
2.1   Definisi
Osteoporosis adalah  suatu kelainan/penyakit metabolik tulang yang disebabkan karena banyak faktor  yang ditandai adanya penurunan massa dan mineral tulang sedemikian rupa  sehingga menyebabkan kondisi tulang menjadi rapuh, keropos dan mudah patah.  Penyakit osteoporosis sering disebut sebagai silent disease karena proses kepadatan tulang berkurang secara perlahan (terutama pada penderita osteoporosis senilis) dan berlangsung secara  progresif selama bertahun-tahun tanpa kita sadari dan tanpa disertai adanya  gejala. Gejala-gejala baru timbul pada tahap osteoporosis lanjut, seperti patah  tulang, punggung yang semakin membungkuk, hilangnya tinggi badan, dan nyeri  punggung.
Jenis Osteoporosis :
1.    Osteoporosis postmenopausal
2.    Osteoporosis senilis
3.    Osteoporosis sekunder
4.    Osteoporosis juvenil idiopatik
2.2  Penyebab
Penyebab osteoporosis dipengaruhi oleh berbagai faktor dan pada individu bersifat multifaktoral seperti gaya hidup tidak sehat, kurang gerak/tidak berolah raga sertapengetahuan mencegah osteoporosis yang kurang akibat kurangnya akibat akti vitas fisik yang dilakukan sehari-hari mulai anak-anak sampai dewasa, serta kurangnya asupan kalsium, maka kepadatan tulang menjadi rendah sampai terjadinya osteoporosis. Kepadatan tulang berkurang secara perlahan (terutama pada penderita osteoporosis senilis), sehingga pada awalnya osteoporosis tidak menimbulkan gejala. Beberapa penderita tidak memiliki gejala.Jika kepadatan tulang sangat berkurang sehingga tulang menjadi kolaps atau hancur, maka akan timbul nyeri tulang dan kelainan bentuk.Kolaps tulang belakang menyebabkan nyeri punggung menahun. Tulang belakang yang rapuh bisa mengalami kolaps secara spontan atau karena cedera ringan. Biasanya nyeri timbul secara tiba-tiba dan dirasakan di daerah tertentu dari punggung, yang akan bertambah nyeri jika penderita berdiri atau berjalan. Jika disentuh, daerah tersebut akan terasa sakit, tetapi biasanya rasa sakit ini akan menghilang secara bertahap setelah beberapa minggu atau beberapa bulan. Jika beberapa tulang belakang hancur, maka akan terbentuk kelengkungan yang abnormal dari tulang belakang (punuk Dowager), yang menyebabkan ketegangan otot dan sakit.
Tulang lainnya bisa patah, yang seringkali disebabkan oleh tekanan yang ringan atau karena jatuh. Salah satu patah tulang yang paling serius adalah patah tulang panggul. Yang juga sering terjadi adalah patah tulang lengan (radius) di daerah persambungannya dengan pergelangan tangan, yang disebut fraktur Colles. Selain itu, pada penderita osteoporosis, patah tulang cenderung menyembuh secara perlahan. Pola pembentukan  dan absorpsi tulang akan berbeda-beda antar individu. Para ahli memperkirakan  adanya beberapa faktor penting yang mempengaruhi keseimbangan tersebut yaitu  faktor genetik, faktor metabolik (usia), faktor nutrisi (vitamin dan mineral),  faktor hormonal, dan faktor pengaruh obat-obatan.
Osteoporosis postmenopausal terjadi karena kekurangan estrogen (hormon utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang pada wanita. Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia diantara 51-75 tahun, tetapi bisa mulai muncul lebih cepat ataupun lebih lambat. Tidak semua wanita memiliki resiko yang sama untuk menderita osteoporosis postmenopausal, wanita kulit putih dan daerah timur lebih mudah menderita penyakit ini daripada wanita kulit hitam.
Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan diantara kecepatan hancurnya tulang dan pembentukan tulang yang baru. Senilis berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia diatas 70 tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita. Wanita seringkali menderita osteoporosis senilis dan postmenopausal.
Kurang dari 5% penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis sekunder, yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obat-obatan. Penyakit ini bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid dan adrenal) dan obat-obatan (misalnya kortikosteroid, barbiturat, anti-kejang dan hormon tiroid yang berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan dan merokok bisa memperburuk keadaan ini.
Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang.

2.3     Gejala
gejala awal  osteoporosis adalah sakit punggung pada bagian tulang belakang lumbar atau thorak. Banyak pasien yang tidak mengenali ini sebagai awal penyakit. Rasa  sakit ditimbulkan oleh aktivitas biasa yang dulunya tidak menjadi tekanan.  Pergerakan tulang belakang jadi terbatas. Pasien dapat memperhatikan kehilangan  tinggi beberapa inchi atau dapat diidentifikasi selama pemeriksaan fisik  tahunan. Kyphosis yang semakin memburuk atau pembungkukan tulang belakang dapat  berkembang sebagai tekanan patah tulang yang semakin memburuk. Ini terjadi pada  bungkuk dowager’s klasik. Tulang rusuk akhirnya ada pada puncak sambungan  antara tulang kelangkang dan usus dari pinggul yang menyebabkan perut menonjol  ke luar dari daerah truncal yang seharusnya.
2.4   Pencegahan Osteoporosis

pencegahan osteoporosis sebaiknya dilakukan sejak masih dalam kandungan. Sang ibu harus mengkonsumsi kalsium dengan cukup sehingga tulang bayi dalam kandungan tumbuh optimal dan tidak mengambil cadangan kalsium dari tulang ibu. pentingnya pencegahan dibandingkan pengobatan. Hal yang paling penting adalah menyadari akan kejadian osteoporosis yang mengancam terutama wanita.

Semua manusia di dunia pasti akan menjadi tua baik pria maupun wanita.Proses penuaan telah terjadi sejak manusia dilahirkan ke dunia dan terus menerus terjadi sepanjang kehidupannya. Khususnya pada wanita, proses ini mempunyai dampak tersendiri berkaitan dengan proses siklik haid setiap bulannya yang mulaiu terganggu dan akhirnya menghilang sama sekali.

Terganggunya atau sampai hilangnya proses haid (menopause dan pasca menopause) disebabkan penurunana dan hilangnya hormon estrogen. Ini adalah hal yang normal dan alamiah. Namun, penerimaannnya berbeda-beda diantara wanita.
Dengan turunnya kadar hormon estrogen maka proses osteoblas (pembentukan tulang) terhambat dan dua hormon yang berperan dalam proses ini yaitu D, PTH pun turun sehingga dimulai hilangnya kadar mineral tulang.Apabila hal ini terus berlanjut dan akibat kelanjutan harapan hidup masih akan mencapai keadaan osteoporosis yaitu kondisi dimana massa tulang demikian rendah sehingga tulang mudah patah. Diketahui 85% wanita menderita osteoporosis yang terjadi sekitar 10 tahun setelah menopause, atau 8 tahun setelah pengangkatan kedua ovarium.
Jadi, para wanita perlu lebih waspada akan ancaman penyakit osteoporosis dibandingkan pria. Karena penyakit ini baru muncul setelah usia lanjut, wanita muda harus sadar dan segera melakukan tindakan pencegahan sebagai berikut, antara lain:
1.    Asupan kalsium cukup

Mempertahankan atau meningkatkan kepadatan tulang dapat dilakukan dengan mengkonsumsi kalsium yang cukup.
Minum 2 gelas susu dan tambahan vitamin D setiap hari, bisa meningkatkan kepadatan tulang pada wanita setengah baya yang sebelumnya tidak mendapatkan cukup kalsium.

Sebaiknya konsumsi kalsium setiap hari. Dosis harian yang dianjurkan untuk usia produktif adalah 1000 mg kalsium per hari, sedangkan untuk usia lansia dianjurkan 1200 mg per hari.

Mengkonsumsi kalsium dalam jumlah yang cukup sangat efektif, terutama sebelum tercapainya kepadatan tulang maksimal (sekitar umur 30 tahun). Pilihlah makanan sehari-hari yang kaya kalsium seperti ikan teri, brokoli, tempe, tahu, keju dan kacang-kacangan.

2.    Paparan sinar UV B matahari (pagi dan sore)

Sinar matahari terutama UVB membantu tubuh menghasilkan vitamin D yang dibutuhkan oleh tubuh dalam pembentukan massa tulang. Untungnya, Indonesia beriklim tropis sehingga sinar matahari berlimpah. Berjemurlah di bawah sinar matahari selama 30 menit pada pagi hari sebelum jam 09.00 dan sore hari sesudah jam 16.00.

3.    Melakukan olah raga dengan beban

Selain olahraga menggunakan alat beban, berat badan sendiri juga dapat berfungsi sebagai beban yang dapat meningkatkan kepadatan tulang. Olah raga beban misalnya berjalan dan menaiki tangga tetapi berenang tidak meningkatkan kepadatan tulang.
Dr. Ade Tobing, Sp.KO kini mengenalkan yang disebut latihan jasmani yang baik, benar, terukur dan teratur (BBTT). Latihan BBTT ternyata terbukti bermanfaat dalam memelihara dan meningkatkan massa tulang. Oleh sebab itu, latihan fisik (BBTT) dapat dilakukan untuk mencegah dan mengobati penyakit osteoporosis.
4.    Gaya hidup sehat

Tidak ada kata terlambat untuk melakukan gaya hidup sehat. Menghindari rokok dan alkohol memberikan efek yang signifikan dalam menurunkan risiko osteoporosis. Konsumsi kopi, minuman bersoda, dan daging merah pun dilakukan secara bijak.

5.    Hindari obat-obatan tertentu

Hindari obat-obatan golongan kortikosteroid. Umumnya steroid ini diberikan untuk penyakit asma, lupus, keganasan. Waspadalah penggunaan obat antikejang. Jika tidak ada obat lain, maka obat-obatan tersebut dapat dikonsumsi dengan dipantau oleh dokter.

6.    Mengkonsumsi obat (untuk beberapa orang tertentu)
    • Estrogen membantu mempertahankan kepadatan tulang pada wanita dan sering diminum bersamaan dengan progesteron. Terapi sulih estrogen paling efektif dimulai dalam 4-6 tahun setelah menopause; tetapi jika baru dimulai lebih dari 6 tahun setelah menopause, masih bisa memperlambat kerapuhan tulang dan mengurangi resiko patah tulang.

    • Raloksifen merupakan obat menyerupai estrogen yang baru, yang mungkin kurang efektif daripada estrogen dalam mencegah kerapuhan tulang, tetapi tidak memiliki efek terhadap payudara atau rahim.

    • Untuk mencegah osteroporosis, bisfosfonat (contohnya alendronat), bisa digunakan sendiri atau bersamaan dengan terapi sulih hormon.

2.5   Diet Untuk Osteoporosis
Penekanan kebutuhan asupan nutrisi khusus pada penyandang osteoporosis ditekankan pada kebutuhan kalsium guna memenuhi zat meineral yang terhilang dari kerangka tulang. Namun kebutuhan kalsium yang ada disesuaikan dengan usia.
  • Usia 1-3 tahun perlu 500 mg/per hari.
  • Usia 4-8 memerlukan 800 mg/per hari
  • Usia 9-18 perlu 1.300 mg/per hari.
  • Usia 19-50 butuh 1.000 mg/per hari.
  • Usia >50 tahun butuh sekitar 1.200 mg/per hari.
Khusus ibu hamil dan menyusui membutuhkan 1.000-1.300 mg per hari.Kalsium bisa didapatkan dari makanan dan minuman. Di antaranya, kedelai, ikan teri, ebi, brokoli, susu, tablet kalsium, dan masih banyak lagi. Olah raga secara teratur sejak dini menjadi salah satu hal penting untuk menghambat osteoporosis.


2.6   Penanganan Dan Pengobatan Osteoporosis
Deteksi dini dengan “Bone Densitometer” yaitu alat untuk mengukur massa tulang dengan keakuratan 98-99%
a)    Pengobatan Osteoporosis
Tujuan pengobatan adalah mempertahankan atau meningkatkan massa tulang, mengontrol nyeri dan atau memperlambat penyakit yang mendasarinya.
Obat yang digunakan antara lain kalsium, vitamin D, hormon estrogen pengganti, kalsitonin, kalsitriol, golongan  bifosfonat dan lainnya. Untuk mengontrol rasa nyeri selain obat penghilang nyeri, dapat pula diberikan Terapi Fisik  seperti terapi dingin, terapi  pemanasan, TENS (Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation) dan lain-lain.
b)    Terapi latihan yang dianjurkan
Latihan fisik bertujuan untuk memaksimalkan puncak massa tulang selama masa pertumbuhan, mengurangi kehilangan massa tulang serta mengurangi insiden terjadi patah tulang.Latihan fisik harus mempunyai unsur pembebanan pada tubuh atau anggota gerak dan penekanan pada aksis tulang (latihan Weight Bearing). Umumnya direkomendasikan latihan erobik intensitas rendah seperti berjalan, jogging, berdansa dll.Berjalan sangat bermanfaat karena merupakan kombinasi rangsangan mekanik pada tulang belakang dan tulang anggota gerak bawah serta kontraksi intermiten otot-otot tubuh bagian belakang dan otot anggota gerak bawah dan dianjurkan dilakukan 3-5 kali seminggu dengan durasi 30 menit persesi.Latihan fisik lain adalah latihan khusus untuk otot punggung, latihan kelenturan otot, latihan koordinasi, latihan sikap dan pola jalan serta latihan pernafanan dan kebugaran.Latihan pada seorang usia lanjut harus direncanakan dengan seksama dan hati-hati, sangat memperhitungkan manfaat dari latihan tersebut dan memperhatikan kondisi umum baik struktur maupun fungsi tubuh. Program latihan yang didemonstrasikan di televisi mungkin kurang cocok, terutama bila disertai gerakan melompat.Latihan membungkuk ke depan harus dihindari untuk pasien yang mempunyai risiko osteoporosis karena menambah kecenderungan tulang belakang patah.
Penanganan pasien osteoporosis tidak hanya terbatas pada penilaian kenaikan jumlah massa tulang., tetapi juga dinilai dengan hasil akhir tidak terjadi patah tulang. Dengan demikian penanganannya tidak hanya berpikir tentang upaya pencegahan dari aspek medis saja tapi juga dari aspek pola hidup pasien dan lingkungannya.
c)    Penggunaan  Ortosis atau Alat Bantu
Ortosis atau alat Bantu diberikan terutama di daerah punggung yang mempunyaii beberapa tujuan yaitu memperkecil terjadinya kifosis (bungkuk) pada mereka yang berisiko, mengurangi gaya menekan pada bagian depan tulang punggung sebagai tindakan pencegahan, membantu menopang tulang punggung untuk mengkompensasi otot punggungyang lemah. Berapa lama pemakaian ortosis belum dapat dipastikan karena ada bukti bahwa patah tulang punggung dapat menambah imbobilisasi dan imbolisasi lebih lanjut dapat menambah hilangnya massa tulang.Selain itu ortosis juga dapat digunakan untuk menangani nyeri punggung, bahkan saat aktifitas rekreasi tertentu atau olahraga.
Apalagi yang harus dipikirkan dalam penanganan osteoporosis ? Aktivitas kegiatan sehari-hari yang dilakukan kadang-kadang menambah kecenderungan patah tulang akibat jatuh.Meningkat keamanan dalam rumah merupakan bagian dari program pencegahan, seperti menghindarkan barang-barang yang dapat mengganggu kebebasan langkah (karpet, meja beroda dll), pemakaian pegangan pada tangga, pencahayaan cukup untuk ruangaktifitas pasien, gunakan lampu malam di kamar tidur dan kamar mandi, kamar mandi dilengkapi dengan pegangan dinding dan karpet antislip, dapur dilengkapi dan disusun agar pemakaiannya terhindar jatuh, segera bersihkan dan keringkan ubin yang basah.
Pasien dengan osteoporosis harus merubah pola hidupnya seperti kalau perlu gunakan kacamata, alat bantu dengar, tongkat sesuai kebutuhan masing-masing, gunakan sepatu tanpa hak tinggi, sepatu beralas karet, hindari obat yang menimbulkan efek mengantuk, gangguan keseimbangan, pusing dll. Harus waspada dan menghindari penggunaan tenaga yang berlebihan atau gerak yang tidak terkontrol seperti saat membuka jendela dengan keras, hindari mengangkat benda berat dalam posisi membungkuk ke depan, saat mengangkat benda berat harus diajarkan dengan posisi jongkok dan berdiri perlahan dalam posisi tegak dan beban harus dekat dengan tubuh.






BAB III
PENUTUP

3.1   Kesimpulan
Semua manusia di dunia pasti akan menjadi tua baik pria maupun wanita.Proses penuaan telah terjadi sejak manusia dilahirkan ke dunia dan terus menerus terjadi sepanjang kehidupannya. Khususnya pada wanita, proses ini mempunyai dampak tersendiri berkaitan dengan proses siklik haid setiap bulannya yang mulaiu terganggu dan akhirnya menghilang sama sekali. dimana kalsium paling banyak terbuang terbuang ketika masa menstruasi. Bila kalsium yang terbuang tersebut tidak tergantikan segera sesuai kebutuhannya, maka potensi terjadinya osteoporosis semakin besar pula
Masalah yang sering terjadi ialah osteoporosis banyak terpicu justru dari pola diet yang sembarangan. Umumnya orang yang sedang menjalani diet tanpa bimbingan ahli nutrisi justru melakukan pengurangan porsi makanan. Hal yang demikian itu sebenarnya salah, pengurangan porsi makanan secara otomatis malah membuat tubuh kekurangan asupan nutrisi. Yang terjadi malah timbul persoalan baru. Potensi terjadinya penyakit-penyakit yang fatal semakin besar. Salah satunya osteoporosis.
pencegahan osteoporosis sebaiknya dilakukan sejak masih dalam kandungan. Sang ibu harus mengkonsumsi kalsium dengan cukup sehingga tulang bayi dalam kandungan tumbuh optimal dan tidak mengambil cadangan kalsium dari tulang ibu. pentingnya pencegahan dibandingkan pengobatan.
.
3.2   Saran
3.2.1.       Bagi Petugas Kesehatan
Deteksi Awal pada Kasus Osteoporosis akan mengurangi resiko cedera atau Fraktur.
3.2.2.       Bagi Masyarakat
o   Pentingnya diet gizi yang adekuat terutama konsumsi Kalsium sejak dini sesuai kebutuhan, guna pencegahan kejadian Osteoporosis terutama pada wanita.
o   Latihan fisik dan Olah raga secara teratur  guna pembentukan tulang yang sehat.













DAFTAR PUSTAKA

duniasehat.wordpress.com/.../penyebab-dan-gejala-osteoporosis/ - Tembolok - 
klinik-sehat.com/tag/gejala-osteoporosis/ 
www.tanaman-obat.com/penyakit/58-osteoporosis?format=pdf  
www.depkominfo.go.id/.../jumlah-lansia-di-indonesia-165-juta-orang/ 
www.lintasberita.com/.../PENCEGAHAN_OSTEOPOROSIS-2 - Tembolok -


osteoporosis.klikdokter.com/subpage.php?id=1&sub=63 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar